Selasa, 20 Desember 2011

Metode Pembelajaran yang didunakan anak usia SMP


Dari sekian banyaknya model-model pembelajaran, secara umum ada tiga model pembelajaran yang dapat digunakan untuk karakteristik anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), yaitu:
1. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Pengetahuan dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu; pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu konsep. Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana seseorang melakukan sesuatu. Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa berkenaan dengan pengetahuan procedural maupun pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari langkah demi langkah.
Metode yang digunakan dalam model pembelajaran ini yang lebih dominan adalah metode Tanya Jawab, metode Ceramah, dan lain-lain. Model ini harus dikemas melibatkan terjadinya interaksi multi arah. Model pembelajaran langsung mempunyai fase-fase penting diantaranya :
·         Fase pendahuluan, pada fase ini guru menyampaikan kompetensi apa yang harus dicapai siswa setelah proses pembelajaran, memotivasi belajar, mengingatkan materi prasyarat.
·         Fase Presentasi materi,guru dengan menggunakan metode ceramah dan resitasi (mengecek pemahaman dengan Tanya Jawab).
·         Kemudian fase terakhir guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih, menyimpulkan hasil belajar dan memberikan umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Sumber : Drs. Sumardi Pengembangan Model Pembelajaran, Widyaiswara LPMP Yogyakarta
2. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk bekerja dalam suatu tim untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk tujuan bersama. Model kooperatif merupakan model pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk mencapai kompetensinya dengan menekankan kerjasama antar siswa. Dengan demikian, metode mengajar yang digunakan guru adalah diskusi kelompok. Adapun ciri-ciri model pembelajaran kooperatif antara lain :
a.       Untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan, siswa belajar dalamkelompok.
b.      Kelompok dibentuk dari siswa dengan memperhatikan kemampuan, gender, ras, budaya dan suku.
c.       Penghargaan diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.
Pembelajaran kooperatif mempunyai tujuan penting, yaitu :
1)      Hasil Belajar Akademik. Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan proses konstruksi siswa terhadap pengetahuan yang dipelajarinya.
2)      Penerimaan terhadap keberagaman. Menumbuhkembangkan interaksi sosial bagi siswa. Siswa akan lebih mudah menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang.
3)      Pengembangan ketrampilan social. Mengembangkan saling percaya dengan berbagi tugas dalam kelompok, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mempresentasikan dan lain-lain.
Langkah dan kegiatan guru dalam Model Pembelajaraan Kooperatif.
Fase Indikator Kegiatan Guru
1)      Apersepsi Guru menyampaikan kompetensi yang harus ditunjukkan siswa, memotivasi siswa, mengingatkan materi prasyarat
2)      Menyajikan informasi Guru menyampaikan informasi secukupnya, berupa cara kerja, atau cara menyelesaikan tugas
3)      Membentuk Kelompok Guru memberikan arahan cara membentuk kelompok
4)      Membimbing kelompok bekerja Guru memberikan bimbingan kepada kelompok yang memerlukan
5)      Evaluasi Guru melakukan kesimpulan akhir, evaluasi proses maupun hasil belajar
6)      Memberikan penghargaan Guru memberikan penghargaan kepada setiap kelompok maupun individual
3. Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction)
Model PBM (Problem Based Instruction) adalah suatu metode yang
diajarkan dengan melihat fakta yang berkembang atau berdasarkan
masalah yang ada kemudian akan dilakukan diskusi dan pemecahan masalah tersebut. Model Pembelajaran berdasarkan pada masalah tertentu, bertujuan untuk:
a.       Membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan memecahkan masalah.
b.      Belajar menjadi peranan sebagai orang dewasa.
c.       Belajar Mandiri.
Pelaksanaan model pembelajaran berdasarkan masalah sebagai berikut :
1)      Penetapan Tujuan Guru mendeskripsikan tujuan model pembelajaran masalah.
2)      Merancang situasi masalah. Guru merumuskan masalah yang akan dipelajari/ diselidiki siswa. Masalah tersebut harus otentik, dan bermakna bagi siswa.
3)      Organisasi sumber daya dan rencana logistic Guru menyiapkan atau menginformasikan material, sarana atau sumber belajar yang dapat dimanfaatkan siswa dalam memecahkan masalah yang ada.
4)      Orientasi siswa pada masalah. Siswa diberikan pengertian bahwa tujuan pembelajaran berdasarkan masalah tidak untuk memperoleh informasi baru dalam jumlah besar, melainkan siswa harus melakukan penelitian terhadap masalah penting untuk biasa belajar mandiri.
5)      Mengorganisasikan siswa untuk belajar. Mengembangkan ketrampilan kerjasama antar siswa dan saling membantu untuk menyelidiki masalah secara bergotong royong. Guru membantu siswa yang memerlukan dalam merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas pelaporan.
6)      Assessment dan evaluasi.  Sistem assessment yang dilakukan adalah penilaian otentik yang menyangkut penilaian proses berfikir siswa dan juga penilaian hasil belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar